Kisah Masa Anak SMA

Masa SMA merupakan masa yang indah untuk dikenang. Bahkan tak jarang tiap bertemu sapa dengan teman alumni sekolah tercuat cerita ketika masih memakai seragam putih abu-abu. Entah posisi duduk, tingkah laku teman kelas, bahkan guru-guru pun tak pelak dari obrolan. Meskipun sekian lama tak berjumpa, namun kenangan itu akan selalu abadi dan terungkap kembali tiap waktu.

Saya lulus dari SMA Negeri 1 Maros sejak tahun 2002, hingga kini masih mengingat beberapa memori tentang masa bersekolah. Walau pun tak banyak, karena saya adalah seorang siswa pendiam dan kurang pergaulan waktu itu. Malah kadang saya lupa nama teman kelas bila berjumpa di suatu tempat, hanya kenal muka saja. Dalam tulisan ini, saya mencoba mengingat masa menjadi anak sekolahan yang rajin

Sewaktu SMA kelas satu, awalnya saya ditempatkan pada kelas 1-2 dengan calon sebangku Andi Baso Indra. Belum berkenalan baik dengan Abi (nama panggilannya), saya dipindahkan ke kelas lebih tinggi yakni 1-1. Jujur saja, saya lupa dengan teman sebangku di kelas ini. Namun ada beberapa peristiwa masih teringat di benak saya. Maaf, saya awali dengan cerita sedih dimana teman kelas saya Ikbal telah meninggal dunia. Padahal sehari sebelumnya, dia mengenakan cincin kain karet yang saya buat. Kata orang, mereka mengenali Ikbal dari cincin tersebut (Subhanallah).

Pintu Gerbang SMA Negeri 1 Maros

Pintu Gerbang SMA Negeri 1 Maros (foto : sma1maros.sch.id)

Ada cerita sedih, ada pula tawa. Saya masih ingat ketika guru Biologi pak Saharuddin menanyakan tentang jumlah kaki udang. Waktu itu saya duduk pada bangku belakang, dengan mudah pak Saha -panggilannya- bertanya sambil memijat pundak siswanya ini. Dengan wajah kebingungan pun saya mencoba mengingat-ingat bacaan mengenai udang. Dan ternyata, saya lupa. Sambil memijat-mijat guru yang suka berolahraga bulu tangkis ini berkelakar, masa’ sering makan udang tidak tahu jumlah kakinya. Makanya kalau makan udang, hitung juga kakinya. Mana sempat pak, he..he… jadi ngiler pengen makan udang

Semasa kelas 2 SMA, saya hanya mengingat beberapa memori yang masih bisa dituliskan. Saat itu saya mengikuti orang tua naik haji. Nanti saya akan ceritakan pula ketika saya berhaji ke tanah suci, Mekkah. Cerita agak menggelikan terjadi ketika, kami diberi kuisener sebagai acuan untuk naik kelas 3. Saya mengisinya dengan baik-baik, karena akan menentukan posisi kelas saya kelak. Namun, seorang teman seolah menganggap kuisener itu hanya candaan belaka. Dia pun main-main dengan memilih jurusan Bahasa sebagai pilihan penempatannya di kelas 3. Dampaknya, apa yang ia pilih itupun dia dapatkan. Teman saya ditempatkan pada kelas 3 Bahasa yang hanya memiliki satu ruangan saja. Yahh..karena teman saya tidak mau ke kelas Bahasa dan kelas IPA maupun IPS telah kepenuhan, terpaksa pindah sekolah. Hal kecil, tapi dampaknya cukup mempengaruhi pilihan kita.

Kebanggaan saya menduduki kelas III IPA 3, pertama kali mendapatkan Rangking 1 di SMA. Jujur saya tak mengira dapat menorehkan angka 1 pada raport. Meskipun hanya sekali, namun sebuah kesyukuran karena saya termasuk murid yang rajin dan baik hati. Sebuah hadiah dari perilaku positif . Masih teringat, saya hanya mentraktir teman-teman dekat sebangku, makan mie siram kuah coto. Untung lagi banyak duit lebih.

Inilah kisah masa anak SMA yang dapat saya ceritakan. Meskipun masih banyak yang tak tersampaikan. Harapan agar tulisan ini dapat menjadi catatan memori indah dikala senja. Cerita anak SMA takkan habis-habis terlontarkan kembali. Hingga kini saya masih tetap berhubungan dengan teman-teman alumni SMA Negeri 1 Maros via grup Facebook di https://www.facebook.com/groups/smunsamaros02/. Salam ikhlas.

2 Komentar

  1. tas mewah
    7 Oktober 2015
  2. Informasi Teknologi
    12 November 2015

Tinggalkan Balasan